FILM ICE AGE-4 (CONTINENTAL DRIFT): KISAH PERSAHABATAN DAN KESETIAAN JANJI YANG MENYENTUH

[H]ari Sabtu (14/7) lalu, kami sekeluarga nonton bioskop. Ya, kami benar-benar doyan mengisi akhir pekan dengan menikmati tayangan film-film animasi dan anak-anak sepanjang liburan sekolah. Setelah Madagascar 3, Ambilkan Bulan, Brave, dan Jendral Kancil, kali ini kami menonton “Ice Age 4 : Continental Drift” di XXI Mal Lippo Cikarang. Saat menonton film-film sebelumnya memang trailer film sequel Ice Age terbaru ini sering diputar dan baik Rizky maupun Alya sudah langsung menyiapkan diri untuk menyaksikan film tersebut pada kesempatan berikutnya.

Film dibuka oleh sebuah film pendek The Simpsons yang berjudul The Longest Daycare.  Cukup menyegarkan suasana sebelum menonton film intinya. Adegan pertama kali dibuka oleh peristiwa membelahnya lempengen bumi yang menyebabkan perubahan besar kehidupan Manny (Ray Romano), Sid (John Leguizamo) dan Diego (Denis Leary). Juga si kocak Scrat (Chris Wedge) si tikus purba yang terus berburu kacang kegemarannya.

Kejadian Tragis menimpa Manny saat ia mesti terpisah dari sang istri, Ellie (Queen Latifah), dan putrinya, Peaches (Keke Palmer) saat gemuruh lempengan bumi berderak-derak riuh kemudian mendadak bergerak membuat tempat Manny berpijak menjauh dari daratan tempat sang istri dan anak berada. Bersama Diego yang ditemani neneknya yang bawel (Wanda Sykes) dan Sid, mereka menjelajahi samudera nan luas serta mencari cara agar bisa kembali ke tempat semula.

Baca lebih lanjut

Iklan

PUISI : LANSKAP KESUNYIAN DAN EMBUN DI TEMARAM PAGI

Keheningan, katamu, adalah rangkaian aksara yang menggantung pada rapuh rangka langit

dan pada desau angin berhembus pelan membelai dedaunan

Di “rahim” ingatan, kata-kata yang seharusnya kau ucapkan dengan lugas

berhenti pada basah bibirmu yang bergetar kelu

Lanskap kesunyian menghadirkan kita bagai sosok-sosok yang begitu akrab namun jauh,

ada namun tiada, lekat namun tak mampu terikat

“Meraihmu seakan merengkuh bayang-bayang yang berkelebat cepat di pelupuk mata,

sirna dan meninggalkan jejak luka di batin” ujarmu lirih dan berulang

Aku mengenang narasi itu dan menuliskan sajak pilu pada secarik kertas lusuh

lantas menyimpannya didalam botol bening kosong

lalu melemparkannya ke laut lepas

berharap deru ombak samudera akan membawanya padamu

kemudian membaca setiap lariknya sembari menyaksikan

basah embun di temaram pagi menetes di hijau rerumputan

“Tak lama lagi,” katamu dengan dada sesak,”cahaya hangat mentari akan melenyapkan

kehadirannya, namun kenangan tentangmu adalah keniscayaan yang senantiasa lekat

sampai kapanpun

sepanjang musim, hingga akhir waktu

Cikarang,14072012

FILM JENDRAL KANCIL : REFLEKSI CERIA ANAK MASA KINI

Hari Sabtu (7/7) lalu, kembali saya, istri dan kedua buah hati tercinta menonton film. Saya bersyukur pada masa liburan panjang anak-anak sekarang ada begitu banyak pilihan tontonan untuk mereka di bioskop. Setelah menonton Madagascar-3, Ambilkan Bulan, dan Brave, kali ini kami menonton “Jendral Kancil: Ratu Pelangi dan Cermin Emas” di Studio 2 Mall Lippo Cikarang.

Judul “Jendral Kancil” sesungguhnya cukup familiar. Saat masih berusia 12 tahun, pada tahun 1958, Achmad Albar (rocker gaek pentolan grup musik God Bless) pernah menjadi pemeran utama di film berjudul sama. Harry Dagoe Suharyadi,  sang sutradara film ini kemudian membuatnya dalam bentuk sebuah sinetron berjudul Ratu Malu dan Jendral Kancil pada kisaran tahun 2002-2004. Sinetron ini sempat mendulang sukses dan menandai meningkatnya karir keartisan Nikita Willy.

Adegan pembuka film ini langsung menghentak dengan aksi Guntur (Adam Farrel Xavier) yang dijuluki Jendral Kancil memimpin teman-temannya melawan tiga orang preman yang kerap kali memalak anak-anak sekolah. Bersama rekan karibnya Badil (Audric Adrian Pratama), Ucok (M. Alif Amalfie), Noni (Paramitha Sekar Ayu) di SD “Lentera Hati” , Guntur berhasil menaklukkan 3 preman kejam (Peppy, Jimmy The Upstairs & Malauw)  tersebut dengan aksi-aksi kocak dan menerbitkan gelak tawa.

Baca lebih lanjut

NOSTALGIA PILKADES DI CIKARANG

Sebentar lagi Pilkades (Pemilihan Kepala Desa) Cikarang akan digelar. Saya terkenang kembali nostalgia 5 tahun silam saat kami sekeluarga mengikuti acara ini di Cikarang. Waktu itu kami sudah bermukim 4 tahun di wilayah perumahan Cikarang Baru dan ini untuk pertama kalinya kami mengikuti Pilkades.

Yang paling berkesan tidak hanya kemeriahan yang terjadi sepanjang pelaksanaan Pilkades ini namun juga nuansa unik yang ditawarkan seperti model kartu suara yang berbentuk buah-buahan dan bukan foto-foto calon dengan setelan jas resmi yang gagah. Tulisan saya dibawah ini ditayangkan di situs Jurnalisme Warga Panyingkul , Selasa 30 Januari 2007. Saya masih ingat betul mengambil fotonya menggunakan kamera handphone Motorola ROKR saya.

Berikut kutipannya:

Baca lebih lanjut

FILM “BRAVE” : TENTANG KASIH IBU DAN KEBESARAN JIWA

[M]inggu lalu,. dua hari berturut-turut, kami sekeluarga memanfaatkan waktu liburan dengan nonton bioskop. Setelah sebelumnya menonton film “Ambilkan Bulan”, keesokan harinya, Minggu (1/7) kami menyempatkan diri menonton film Brave di XXI Metropolitan Mall, Bekasi. Kami terlambat tiba dan hanya mendapatkan tempat paling depan. Bioskop dipenuhi oleh anak-anak seusia Rizky & Alya.

Adegan dibuka dengan film pendek karya Enrico Casarosa yang berjudul La Luna. Dengan durasi 7 menit, film yang tahun silam berhasil mendapatkan nominasi di ajang The 84th Annual Academy Awards untuk kategori Best Animated Short Film ini cukup memikat sebagai tayangan pembuka.

Harmoni keluarga Putri Merida (Kelly Macdonald), puteri satu-satunya dari pasangan Raja Fergus (Billy Connolly) dan Ratu Elinor (Emma Thompson) yang menguasai kerajaan DunBroch, digambarkan begitu mesra dan damai di awal film.  Malang nian nasib sang putri, karena ia harus menuruti aturan kerajaan serta instruksi sang ibu untuk bertindak layaknya pewaris tahta yang anggun, lembut dan elegan. Gaya tomboi Merrida yang lebih menggemari olahraga berkuda dan panah membuat sang ibu tidak nyaman.

Baca lebih lanjut

ANJANGSANA BLOGGER CIKARANG KE OMAH BURUH : MENGGAGAS SINERGI DASHYAT 2 KOMUNITAS

[K]amis malam (5/7) minggu lalu, saya bersama Pak Ceppi Prihadi (Ketua Komunitas Blogger Cikarang) berkesempatan untuk melakukan anjangsana ke Omah Buruh, “markas besar” komunitas serikat pekerja di Cikarang yang berlokasi di jembatan penghubung antara kawasan EJIP (East Jakarta Industrial Park) dan MM2100-Cibitung. Pukul 19.40, dengan menggunakan mobil Pak Ceppi, kami berangkat dari Perumahan Cikarang Baru. Mas Bustomi, admin blogger Cikarang rupanya sudah tiba lebih dulu disana dan menjadi pemandu kami via telepon untuk mencapai lokasi.

Akses menuju “Omah Buruh” adalah melalui jalan utama kawasan EJIP, lurus, hingga akhirnya mencapai jembatan belum selesai yang menghubungkan antara dua kawasan industri besar di Cikarang. Omah Buruh ternyata terletak di jembatan belum selesai tersebut dan dibangun secara semi permanen. Kerangka besi jembatan terlihat kokoh dan berada di sisi kawasan EJIP. Saat kami tiba, sekitar 300-an sepeda motor parkir disana. Dua konstruksi jembatan yang belum selesai tersebut digunakan untuk aktititas kegiatan komunitas serikat pekerja Cikarang, sejak aksi demo kolosal yang dilaksanakan bulan Januari silam. Disebelah lokasi Omah Buruh terdapat sarana penyeberangan untuk sepeda motor menuju ke lokasi sebelahnya dikawasan MM2100.

Baca lebih lanjut

BUKU “CELOTEHAN LINDA” : SENTILAN HUMANIS & MEMORI KEHIDUPAN DALAM CATATAN

Judul Buku : Celotehan Linda (Jurnalis, Penulis, Humanis)
Penerbit : Kaki Langit Kencana, 2012
Penulis : Linda Djalil
Kata Pengantar : Bondan Winarno
Halaman : xvii + 426 Halaman
Cetakan : Pertama, Juni 2012
ISBN : 978-602-8556-30-9

Linda Djalil memang benar-benar sudah membuktikan dirinya, tidak betul-betul pensiun jadi wartawan. Buku ini adalah salah satu wujudnya. Seperti disampaikan oleh Bondan Winarno dalam kata pengantar buku yang baru terbit akhir Juni 2012 tersebut, “Wartawan tetap akan menulis sampai akhir hayat”. Dan begitulah, rangkaian tulisan mantan jurnalis majalah TEMPO dan GATRA itu dalam buku ini tidak sekedar menunjukkan eksistensi seorang Linda Djalil dalam dunia penulisan namun lebih dari itu, era jurnalisme warga yang berkembang via internet sekarang menjadi sebuah media menuangkan opini dan ekspresi tentang banyak hal seputar kehidupan, dan disini, gelegak nyali dan naluri kewartawanannya mendapat tempat “penyaluran”-nya.

Sudah lama saya mengenal sosok wartawan senior ini, terlebih sejak orang tua saya berlangganan majalah Tempo, tempat bekerja wartawati yang bertugas di Istana Presiden selama 9 tahun ini . Sepak terjang Linda Djalil, perempuan kelahiran 23 Juni 1958 dalam kiprahnya sebagai wartawan majalah Tempo cukup fenomenal. Tulisan-tulisan yang memikat di media tersebut menjadi salah satu daya tarik saya untuk membacanya. Kegesitannya “menembus” pertahanan narasumber yang sulit ditemui serta jaringan persahabatannya yang luas terlebih sejak menjadi wartawati istana, membuat tulisan-tulisan karya wartawati yang tahun silam menghasilkan buku kumpulan puisi “Cintaku Lewat Kripik Balado” ini seakan “hidup” dan mengesankan. Tak salah bila dalam kata pengantar buku tersebut, Putu Wijaya menyampaikan: Linda tidak memamerkan keterampilan pertukangan kata. Ia tidak “memainkan”kata dan kalimatnya. Ia memilin yang diceritakannya. Ia menaburinya dengan rasa. Itulah yang membuat “reportase”-nya menjadi unik. Dan karenanya puitis.

Baca lebih lanjut

FILM “AMBILKAN BULAN”: MENGABADIKAN KENANGAN LAGU MASA KECIL

[S]ejak pertama kali iklan film “Ambilkan Bulan” tayang di televisi, kedua anak saya, Rizky dan Alya sudah mematok tanggal kapan waktu menontonnya (film ini ditayangkan perdana di bioskop Indonesia, tanggal 28 Juni 2012).

Dan begitulah, Sabtu (30/6) seusai mengunjungi Jakarta Book Fair 2012, kami sekeluarga bergegas menuju Hollywood XXI di Jalan Gatot Subroto untuk menonton pada pertunjukan jam 14.00 siang.

Kisah diawali oleh sebuah sajian animasi visual yang ciamik. Sosok tokoh utama film ini, Amelia (Lana Nitibaskara), gadis kecil berusia 10 tahun ditampilkan sedang asyik chatting di facebook dengan sepupunya Ambar (Berlianda Adelianan Naafi) yang tinggal di desa, berburu kupu-kupu biru dalam kehijauan bukit penuh pesona.

Kesepian  Amelia sejak ditinggal sang ayah (Agus Kuncoro) yang wafat karena kecelakaan serta sang ibu, Ratna (Astri Nurdin) yang sibuk dengan karirnya mendapatkan solusi sejak ia menjalin komunikasi dengan Ambar. Amelia makin tertarik mengunjungi tempat tinggal Ambar sejak menyaksikan gambar-gambar indah yang diunggah ke Facebook. Amelia penasaran dan mengungkapkan keinginan kepada sang ibu untuk mengisi liburannya di desa tempat Ambar bermukim.

Baca lebih lanjut

BLOGGER CIKARANG MENGGAGAS BLOGSHOP “BURUH NGEBLOG”

[C]ikarang memiliki ciri khas tersendiri sebagai salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki kawasan industri terbesar. Dengan luas lokasi 6.219,40 Ha terdiri atas 16 kawasan industri dengan hampir 1000 pabrik berkapasitas besar, di daerah Kabupaten Bekasi, khususnya Cikarang memiliki potensi luarbiasa dari segi pertumbuhan ekonomi daerah. Buruh menjadi salah satu komponen utama dalam gemuruh pembangunan di kawasan ini dan seiring perkembangan teknologi digital serta geliat kesadaran mengungkapkan fikiran dan pendapat secara bebas dan bertanggung jawab, gagasan untuk menggelar Blogshop untuk buruh kian esensil.

Hari Minggu pagi (1/7) lalu, saya bersama kawan-kawan blogger Cikarang, Pak Ceppi Prihadi, Pak Ipung Purwanto, Pak Bustomi Haris, Pak Hardono Umardhani bersama sang istri tercinta Bertha Yulianti serta perwakilan Serikat Pekerja di Cikarang Pak Herfin, berkumpul bersama di Cafe De Bangoor yang terletak di kawasan Cikarang Commercial Center.

Baca lebih lanjut

LAUNCHING BUKU “CELOTEHAN LINDA” : REFLEKSI NARATIF SANG WARTAWATI HANDAL

[H]ari Sabtu (30/6) kami sekeluarga berkesempatan menghadiri acara peluncuran buku mbak Linda Djalil berjudul “Celotehan Linda” pada ajang Jakarta Book Fair di Istora Senayan Jakarta. Rencana untuk datang ke acara pameran buku tersebut, memang sudah kami siapkan sejak minggu lalu, sekalian menghadiri acara peluncuran buku mbak Linda yang juga merupakan salah satu jurnalis wanita kawakan di Indonesia dan kini aktif mengisi blognya dengan beragam tulisan.

Kami tiba di lokasi pukul 10.45 pagi. Masih 20 menit lagi sebelum acara launching buku mbak Linda. Kami menyempatkan diri berjalan-jalan dulu berkeliling di pameran buku yang menghadirkan banyak buku dengan potongan harga lumayan.  Kami lalu memasuki area dekat panggung utama tempat pelaksanaan launching buku. Disana ada mbak Linda sedang bersiap-siap. Saya lalu memperkenalkan anak-anak dan istri saya ke beliau yang memang baru pertama kali ketemu. Seperti biasa, mbak Linda yang ramah dan supel, menyongsong kehadiran kami sekeluarga dengan hangat. “Terimakasih ya Amril, sudah datang ke acara saya ini,” ujar mantan wartawati senior majalah berita mingguan TEMPO ini.

Baca lebih lanjut